BRILink Sebagai Edukasi Keuangan Hingga Kepelosok Negri

Advertisement

BRILink Sebagai Edukasi Keuangan Hingga Kepelosok Negri

60 MENIT
Sabtu, 28 September 2019

60Menit.co.id - Agen BRIlink Simeuleu Barat (Net)

60MENIT.CO.ID ☐ Sesuai dengan amanah Perpres Nomor 82 Tahun 2016 tentang strategi keuangan inklusif, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) memiliki program layanan tanpa kantor yakni BRILink. Tujuannya untuk mengedukasi layanan keuangan bagi masyarakat hingga ke pelosok desa.

Dengan berbasis sistem keagenan, program ini membantu masyarakat untuk mengenal pengetahuan dasar tentang pengelolaan keuangan melalui pemanfaatan produk dan layanan perbankan.

Namanya saja di pelosok desa, segala macam rintangan harus dilalui para agen BRILink demi bisa mewujudkan program keuangan inklusi ini. Salah satunya Taufik. Warga Desa Malasin Kecamatan Simeulue Barat, Aceh ini harus menempuh jarak 109 kilometer menggunakan sepeda motor untuk mengambil uang di BRI Unit Sinabang.

Di Kabupaten Simeulue, hanya ada satu kantor unit BRI yang letaknya di pusat Kota Sinabang. Bapak tiga anak ini kerap membawa uang hingga ratusan juta yang diangkut menggunakan plastik hingga dimasukkan ke dalam jok motor.

"Jarak tempuh kurang lebih 109 km lah. Dari sini ke Kota Sinabang itu. Saya bawa (uangnya) pakai plastik dan dimasukkan ke jok motor," kata Taufik saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

60Menit.co.id (Net) Taufik harus menempuh jarak ratusan kilometer
Taufik mengaku sudah menjadi agen BRILink sejak 2015. Ia adalah agen BRILink pertama di Desa Malasin. Sejatinya, Taufiq bukanlah nasabah baru di BRI. Ia sudah memiliki akun rekening di BRI sejak tahun 1998. Lalu menjadi nasabah kredit pada 2003. Taufiq mengaku, jarak bukanlah halangan meski harus membawa uang ratusan juta dengan sepeda motor.

"Selama ini saya pakai motor. Alhamdulillah engga ada apa-apa di jalan," tuturnya.

Untuk menjadi agen BRILink, Taufik mendapatkan sebuah mesin Electronic Data Capture (EDC) dari BRI. Ia bercerita saat awal-awal menggunakan EDC, kendala kerap terjadi karena mati lampu. Maklum saja, di Kabupaten Simeulue sering dilakukan pemadaman bergilir. Namun, kendala itu sudah tidak terjadi lagi saat ini. Pasalnya, mesin EDC sudah diperbaharui dengan yang bisa menggunakan baterai.

"Dulu kendala kami kalau mati lampu saja, tidak bisa berbuat apa-apa. Transfer gak bisa, transaksi gak bisa. Sekarang sudah tidak lagi," terangnya.

Diakui Taufik, saat ini pelanggannya tidak hanya berasal dari Desa Malasin saja, melainkan juga enam desa yang letaknya di pulau seberang. "Saya yang pertama dulu pakai jadi agen BRILink, sekarang sudah ada empat agen yang ada di desa Malasin," terangnya.

Selain mendapatkan keuntungan bagi hasil dari BRI ketika ada transaksi pakai BRILink, Taufik juga mengaku lebih mudah mentransfer uang kepada keluarga di Medan. Ia menyebut, per harinya bisa mendapatkan untung rata-rata hingga Rp 300 ribu dari transaksi yang dilakukan melalui mesin EDC BRILink.

(*)