WARGA PAMEUNGPEUK DAN KADUNGORA 11 ORANG MAKAN JAMUR LIAR BERACUN

Advertisement Adsense

WARGA PAMEUNGPEUK DAN KADUNGORA 11 ORANG MAKAN JAMUR LIAR BERACUN

Wak Puji
Kamis, 26 Desember 2019

60menit.co.id, Garut – 11 orang warga di Kecamatan Pameungpeuk dan Kadungora, Kabupaten Garut, mengalami gejala keracunan usai menyantap jamur liar.

Kesebelas orang warga tersebut pun terpaksa harus mendapatkan perawatan intensif di Puskesmas dan rumah sakit.

Di Kecamatan Pameungpeuk, Yuyun (47) tidak menyangka kalau jamur yang diambilnya dari sebuah penggilingan padi di Kampung Pasampeu, Desa/Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut akan berbuah petaka baginya dan keluarganya.

Ia mengalami gejala keracunan dan harus mendapatkan perawatan setelah menyantap jamur yang telah dimasaknya.

Komandan Kodim 0611 Garut, Letkol Inf Erwin Agung mengatakan bahwa awalnya Yuyun diketahui melihat jamur yang cukup banyak di sekitar penggilingan padi milik Ai di kampungnya pada Senin (23/12/2019) siang.

Melihat jamur yang cukup banyak di sekitar penggilingan padi membuat Yuyun ini tertarik sehingga langsung memetiknya dan langsung dibawa ke rumahnya. Di rumahnya ia langsung memasak jamur tersebut setelah dibersihkan. Yuyun ini tidak tahu kalau jamur itu beracun,” Penjelasan Dandim 0611, Rabu (25/12/2019).

Beberapa saat setelah Yuyun selesai memasak jamur, lanjut Dandim, keluarganya datang ke rumahnya dan langsung ditawari makan bersama. Malam harinya, atau beberapa jam setelah Yuyun bersama keluarganya makan jamur, seluruhnya merasakan gejala keracunan.

Mereka yang merasakan gejala keracunan ini adalah Yuyun, Wiwin (42), Mudin (56), dan Wewen (58). Semuanya merasakan pusing dan muntah-muntah,” katanya.

Keempatnya, disebut Dandim 0611 langsung dibawa ke Puskesmas Pameungpeuk untuk mendapatkan perawatan intensif. Khusus untuk Mudin, ia terpaksa dirujuk ke RSUD Pameungpeuk karena kondisinya yang sangat parah.

Sementara di Kecamatan Kadungora, kata Dandim, kasus serupa kembali terjadi. Tujuh orang warga mengalami gejala keracunan usai menyantap jamur liar yang tumbuh di belakang rumah warga.

Dandim mengatakan bahwa warga yang mengalami gejala keracunan tepatnya di Kampung Cihaur, Desa Hegarsari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Setidaknya tujuh orang menjadi korban keracunan dalam peristiwa tersebut.

Mereka yang mengalami gejala keracunan adalah Ririn (26), Een (54), Rohana (83), Eva (16), Ema (56), Diki (35), dan Wawan (29). Mereka ini seluruhnya mengalami gejala keracunan setelah menyantap jamur liar yang dimasak oleh Ema,” katanya.

Dandim menyebut bahwa Ema diketahui mengambil jamur liar yang berada di belakang rumah Rohana dan langsung memasaknya. Saat matang, ia bersama seluruh korban keracunan menyantap jamur tersebut.

Beberapa waktu setelah menyantap jamur, seluruh orang yang memakan jamur tersebut langsung mengalami gejala keracunan, mulai dari pusing yang tidak tertahan hingga muntah-muntah.

Mereka langsung dibawa ke Puskemas Kadungora untuk dirawat. Beberapa orang kondisinya cukup memprihatinkan sehingga kemungkinan membutuhkan waktu yang cukup lama dibanding yang lainnya yang sudah membaik,” katanya.

Dandim menyebut bahwa pihaknya sudah melakukan pengecekan lokasi pengambilan jamur liar di belakang rumah milik Rohana. Beberapa jamur masih terlihat di sana. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan pihaknya, jamur tersebut memang tidak untuk dikonsumsi karena beracun.

Tanaman yang beracun memang memiliki ciri-ciri tersendiri, berbeda dengan tanaman yang tidak beracun. Contohnya saja, kalau jamur yang beracun ini punya warna yang macam-macam, baik kuning, merah, hitam legam, putih, sampai jingga. Di pangkal jamur beracun biasanya terdapat cawan atau cincin. Kalau dipotong pake pisau stainless akan meninggalkan noda biru atau hitam di pisaunya,” jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa jamur beracun biasanya ada rasa pahit saat dimakan meski sudah mendapatkan bumbu yang cukup. “Kalau ada rasa pahitnya, lebih baik dimuntahkan karena itu pasti beracun,” tambahnya.

Dengan adanya kejadian ini, Dandim mengaku akan memberikan pengetahuan kepada warga tentang tanaman yang beracun kepada warga melalui anggotanya. Dengan pengegahuan tersebut, diharapkan kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Anggota TNI kan memiliki pengetahuan akan hal tersebut karena kita pernah belajar saat pendidikan dan dengan kejadian ini kita harus mengamalkannya kepada warga. Mungkin sebagian ada yang sudah tahu, tapi akan kita ingatkan lagi sehingga tidak ada kejadian seperti ini lagi. Biar warga tau mana tanaman beracun dari ciri-cirinya,” pungkasnya. (Djie)