Kakek Aan Keluarga Pra Sejahtera Di Kabupaten Garut Yang Terabaikan

Advertisement Adsense

Kakek Aan Keluarga Pra Sejahtera Di Kabupaten Garut Yang Terabaikan

Wak Puji
Minggu, 19 April 2020



60menit.com, Garut - Ketika nasib tidak membawa seseorang pada kehidupan lebih baik, hanya ikhtiar dan berdoa yang dapat dilakukan agar dapat melaluinya dengan tegar, namun adakalanya kepapaan yang terabaikan menjadi persoalan baru di tengah kesulitan yang dihadapi pada waktu sekarang ini.

Seperti potret kehidupan usang seorang kakek bernama Aan (67), seorang pengayuh becak yang tinggal di gubuk tak layak huni bersama seorang putra dan seorang cucunya di kampung Legokringgit, kelurahan Sukamentri, kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, yang berharap ada uluran kasih dari sesama untuk membantu kehidupan di tengah pandemi Covid 19 ini.

Saat jajaran Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG) dipimpin ketuanya Irwan Hendrasyah SE. mengunjungi rumah Aan, ada tersirat harapan di matanya untuk bangkit dari kemiskinannya. Di penghujung hari yang hampir magrib kakek Aan yang didampingi salah satu putranya serta seorang kader RT mengutarakan isi hatinya, Minggu (19/04).

“Sekarang mengayuh becak sudah tidak bisa diharapkan lagi, kakek sudah tua, ditambah penumpang sepi karena corona ini, sering tak dapat menumpang, artinya tak ada uang untuk membeli beras”, ujar kakek renta ini dengan sedikit menunduk.

Ditanya bantuan dari pemerintah, kakek Aan yang berputra 7 orang ini menyebutkan hanya kartu Indonesia Sehat (KIS) yang didapat, lain-lainya tak ada sama sekali. Tubuhnya yang mulai rapuh terlihat semakin tua di senja itu.

Di sisi lain, seorang kader tingkat RT bernama Ida Rosidah yang datang menghampiri menjelaskan upaya yang telah dilakukannya untuk menyampaikan situasi dan kondisi warganya kepada pemerintah lebih atas.

Betul pak Aan memang hanya mendapatkan KIS saja, untuk PKH tidak masuk kriteria, suami saya sebagai RT, dan saya Kader di sini sudah berupaya agar bukan hanya pak Aan saja tapi yang lainnya juga mendapat bantuan terdampak Covid 19″, ujar Ida.

Sebagai kader yang baik, Ida juga mengawal ajuannya sampai kelurahan. Menurutnya selama dua hari dirinya berada di Kantor Kelurahan untuk mengentry data agar semua tidak ada yang terlewat. Padahal keluarganya pun tak mempunyai lagi rumah karena kondisinya hampir rubuh, Ida pun terpaksa mengontrak. (Djie)