Setia Putra, Anak Obesitas Ekstrim (7Th-110Kg) Meninggal Dunia

Advertisement

Setia Putra, Anak Obesitas Ekstrim (7Th-110Kg) Meninggal Dunia

60 MENIT
Senin, 30 September 2019

60Menit.co.id. - Satia Putra (Asal Karawang), Anak  obesitas ekstrem dengan bobot 110 kilogram
60MENIT.CO.ID ☐ Satia Putra, bocah obesitas ekstrem dengan bobot 97 kilogram asal Karawang meninggal. Karawang, Senin (30-09-2019)

Hingga sebelum menghembuskan nafas terakhir, berat badannya berangsur naik hingga 110 kilogram.

Bocah tujuh tahun itu ramah. Semasa hidupnya, saat disambangi Kompas.com Satia tak sungkan bertutur sapa.

Bahkan, ia menyapa lebih dulu. Ia pun ngobrol sembari sesekali tersenyum.

Berat badan naik drastis

Berat badan putra pasangan Sarli (50) dan Komariah (40) kian naik setelah ia disunat saat berumur tiga tahun. Kian hari, nafsu makan bocah itu kian naik, hingga mencapai 97 kilogram.

Bahkan, ditimbang saat pemeriksaan di RSUD Karawang, berat badan Satia 101 kilogram.

Sebelum tutup usia, bobot badannya menjadi 110 kilogram, naik 5 kilogram dari sebelumnya.

Pola makan tak terkontrol

Tiap hari, Satia makan enam hingga tujuh kali. Itu belum dengan ngemil, seperti bakso.

Malam sebelum tidur, Satia juga kerap merengek meminta makan. Tiap kali makan, porsi makannya pun banyak, tak seperti anak-anak pada umunya.

"Kalau bangun, misalnya jam 12 malam dia (Satia) juga sering minta makan. Kalau enggak dikasih marah-marah," kata Sarli, ayah Satia.

Tiap kali makan, bocah yang seharusnya tahun ini bakal memasuki sekolah dasar itu mesti ada lauk, misalnya ikan atau telur.

"Kalau tidak ada lauk, dia rewel," kata dia.

Apalagi, Satia jarang main. Tiap hari hanya nonton tv di warung.

Maklum, sudah lama keluarga Sarli memilih tinggal di warung dekat pantai, sembari mencari nafkah.

"Main kalau pulang ke kampung (masih Kampung Cilempung, namun di wilayah padat penduduk), di sana banyak temannya," ujar dia.

Tidak bisa tidur terlentang

Akibat obesitas yang yang dideritanya, Satia tidak bisa tidur terlentang. Ia tidur dengan cara duduk, kemudian punggungnya diganjal dengan bantal.

"Dia sering merengek enggak bisa tidur," ungkap Sarli.

Dibawa ke RSUD Karawang

Satia kemudian dibawa ke RSUD Karawang pada Rabu (3/7/2019) sekitar pukul 10.00 WIB.

Satia sempat merengek tak mau turun dari ambulans. Orangtua Satia, camat, Wakil Bupati Karawang hingga paramedis turut merayunya.

Satia kemudian meminta dibelikan mainan. Setelah sebuah mainan beko remot datang, barulah ia menurut untuk diobservasi oleh dokter.

Satia diobservasi sekitar setengah jam oleh dokter spesialis anak. Hasilnya, secara garis besar Satia hanya mengalami obesitas akibat pola makan yang tidak wajar.

"Hasil awal hanya mengalami kegemukan. Tensi dan lainnya wajar," kata Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) RSUD Karawang Sri Sugihartati.

Untuk menjalani pemeriksaan secara menyeluruh dan lengkap, Satia dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Namun, rujukan tersebut urung dilakukan menunggu pemberkasan admistrasi dan kesiapan keluarga.

Ditawari operasi bariatik

Sarli menyabutkan, ia pernah ditawari operasi penyempitan lambung untuk Satia. Namun, ia menolak lantaran tak tega.

"Saya tidak tega, dia (Satia) masih kecil," kata dia.

Saat itu, kata Sarli, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter ahli RSUD Karawang, Satia dinyatakan sehat.

Tidak ada gangguan pada organ dalam Satia. Ia hanya kegemukan. Sarli dan Komariah kemudian meminta obat penurun nafsu makan.

Namun, nafsu makan Satia masih saja besar dan berat badannya bertambah.

Merengek minta mainan dan mengeluh sakit

Sebelum meninggal, Satia berulang kali merengek minta mainan. "Pah beli mainan yuk. Ini yang terakhir," kata Sarli, di rumahnya Jalan Raya Tanjungbaru, Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Minggu (29/9/219).

Sarli menyebut, Satia memang kerap merengek minta mainan. Bahkan, saat dibawa ke RSUD Karawang untuk pertama kali, Satia sempat menangis dan tidak mau turun.

Baru setelah dibujuk dibelikan mainan, ia mau turun untuk diperiksa dokter.

Selain minta dibelikan mainan, Satia juga mengeluhkan sakit. Pekan lalu, Satia batuk dan kemudian dibawa ke Puskesmas.

Namun, ia kemudian juga mengalami sesak nafas. Oleh dokter, Satia disarankan dibawa ke rumah sakit.

"Pah saya enggak kuat, soalnya sakit banget," kata Sarli, menirukan perkataan Satia.

Tutup usia

Komariah, sang ibu, menyebut, pemeriksaan terakhir Satia menderita Asma. Satia pun sempat dirawat dan dipasang alat bantu pernapasan.

Berdasarkan saran dokter, Satia akan dibawa ke RSHS Bandung pada Minggu (29/9/2019).

Sabtu (29/9/2019) sekitar pukul 12.00 WIB, Satia masih bermain. Namun, sore hari kondisinya menurun.

Keluarga bermaksud langsung membawa ke rumah sakit sekitar pukul 21.00 WIB.

"Saya pinjam cator ke Pak Lurah (Kades Pasirjaya). Baru beres-beres, catornya dibersihin, udah enggak ada (meninggal)," kata dia.

(RM)