![]() |
| Tampak mobil bis AKDP dan Antrian SPBU Karassik biang kerok kemacetan (sal) |
60MENIT.co.id, Toraja Utara | Kesabaran warga di sepanjang Jalan Poros Karassik, Makale - Rantepao sudah habis. Setelah berbulan -bulan mengeluh soal kemacetan parah akibat Bus AKDP dan truk besar pun antrian SPBU yang membuat siswa terlambat sekolah, namun tidak ada tindakan nyata dari pemerintah, warga kini melontarkan pernyataan keras.
"Kalau Dishub dan Polres tidak sanggup atur lalu lintas di Poros Karassik, mundur saja! Biar kami warga yang atur sendiri!"
Pernyataan pedas itu keluar dari mulut warga Karassik, Makale Selatan, Kamis (15/10/2026) pagi, saat mereka kembali terjebak macet selama hampir satu jam di jam sibuk sekolah.
Warga menilai, Dinas Perhubungan (Dishub) Toraja Utara serta Satlantas Polres sudah gagal total dalam mengatur lalu lintas di jalur vital tersebut.
"Setiap pagi jam 6 sampai jam 8, kami yang atur lalin sendiri di Karassik. Dishub di mana? Polisi di mana? Tidak pernah ada petugas di lapangan. Giliran razia helm dan pajak kendaraan, mereka paling rajin. Tapi giliran atur macet yang bikin anak sekolah terlambat, tidak ada yang muncul," semprot Anto, warga Karassik dengan nada tinggi.
Warga mengaku sudah berkali-kali melapor, sudah sering diberitakan media, tapi jawaban Dishub dan Polres selalu sama: "Akan kami tinjau", "Akan kami rapatkan", "Kekurangan personil".
"Alasan klasik! Kekurangan personil terus. Kalau kekurangan personil, akui saja tidak sanggup. Jangan makan gaji buta dari uang rakyat. Kalau tidak sanggup, serahkan saja ke kami warga, biar kami yang pakai peluit dan atur lalin di Karassik secara swadaya. Kami lebih ikhlas, demi anak-anak kami tidak terlambat sekolah," tegas warga lainnya yang disambut teriakan setuju warga lain.
Karena kekesalan yang memuncak, warga di Poros Karassik bahkan sudah berencana untuk membuat Posko Swadaya Pengaturan Lalu Lintas di titik-titik rawan macet Karassik.
"Kami sudah musyawarah. Mulai besok, kalau masih macet dan tidak ada petugas Dishub dan Polisi yang datang jam 6 pagi, kami yang akan turun. Bapak-bapak, pemuda Karang Taruna, akan kami yang atur lalin. Kami akan stop bus-bus AKDP Makassar-Toraja dan truk-truk besar yang mau masuk Karassik jam 06.00-08.00. Kami suruh mereka putar balik, tunggu sampai jam 8 lewat baru boleh masuk," ujar tokoh pemuda Toraja.
Warga mengaku terpaksa mengambil alih tugas Dishub dan Polres karena sudah tidak tahan melihat anak-anak mereka setiap hari menangis karena terlambat masuk sekolah dan dimarahi guru.
"Anak kami sekolah butuh disiplin. Kalau tiap hari terlambat gara-gara macet yang dibiarkan pemerintah, bagaimana mau jadi generasi pintar? Lebih baik kami yang atur. Kami tidak dibayar tidak apa-apa, yang penting anak kami tidak terlambat lagi," tambahnya.
Dalam kesempatan itu, warga memberikan ultimatum tegas kepada Dishub dan Polres Tana Toraja.
Warga juga meminta Bupati dan Wakil Bupati Toraja Utara untuk mengevaluasi kinerja Kadis Perhubungan dan Kasat Lantas jika tidak mampu menyelesaikan masalah sepele seperti kemacetan di Karassik.
"Bupati tolong evaluasi anak buahnya. Kalau Kadis Dishub dan Kasat Lantas tidak sanggup atur lalin di Karassik, ganti saja! Masih banyak orang Toraja yang lebih mampu dan mau kerja pagi-pagi untuk rakyat," tutup warga.
Hingga berita ini viral di grup-grup WhatsApp Toraja, pihak Dishub dan Polres Tana Toraja belum memberikan keterangan resmi terkait tantangan dan ultimatum warga Karassik tersebut.
(sal)



