TIM GUGUS TUGAS COVID-19 GARUT DINILAI LAMBAN, KELUARGA PERAWAT CURHAT

Advertisement Adsense

Bupati Garut

Bupati Garut

Kadispora Kab. Garut

Kadispora Kab. Garut

Kadis Pertanian Garut

Kadis Pertanian Garut

TIM GUGUS TUGAS COVID-19 GARUT DINILAI LAMBAN, KELUARGA PERAWAT CURHAT

Wak Puji
Senin, 04 Mei 2020


60menit.com, Garut – Rasa cemas menghantui keluarga tim medis di Puskesmas Cisurupan, Kabupaten Garut. Pasalnya hingga kini mereka masih menunggu hasil swab test keluar agar bisa hidup tenang.

Pasca ditetapkannya satu kasus konfirmasi positif covid-19 di Puskesmas Cisurupan, seluruh tenaga medis merasa takut, tak terkecuali keluarga mereka di rumah.

Tatang S (45) saudara dari salah seorang tenaga medis di Puskesmas Cisurupan mengaku kecewa dengan langkah pemkab Garut, khususnya tim gugus tugas penanganan covid-19. Dia menilai langkah tim gugus tugas lamban dalam melakukan langkah.

"Setelah adanya kasus positif kami berharap segera dilakukan rapid test. Tapi nyatanya rapid test sendiri molor. Tapi sekarang memang sudah keluar dan hasilnya sudara saya negatif," ujar Tatang.

Tatang pun berharap agar hasil swab test terhadap saudaranya itu cepat keluar agar keluarga di rumah bisa hidup tenang. Pasalnya, saudaranya yang menjadi tim medis itu sudah banyak berinteraksi dengan keluarga di rumah.

“Saya mau bertanya itu hasil swab test memang lama ya,? berapa lama sampai hasilnya keluar?” kata Tatang saat dihubungi Minggu malam (3/5/2020).

Tatang juga mengeluh, karena selama ini belum ada pihak berwenang dari tim gugus yang memberikan imbauan atau arahan kepada keluarganya di rumah.

Harus seperti apa langkah yang dilakukan keluarga ketika menjalani isolasi mandiri seperti sekarang.

“Tidak ada imbauan harus seperti apa kepada keluarga kami di rumah, kami bingung. Bahkan di rumah juga pintu pagar itu dikunci gembok, mau keluar masuk itu dikasih tahu pakai wa,” katanya.

Kemudian yang paling penting, Tatang meminta kepada Pemerintah Kabupaten Garut agar ada semacam trauma healing, untuk memulihkan psikologis mereka yang selama ini merasa tertekan.


“Kami butuh konsultasi kepada psikiater, karena yang paling utama bencana mental ini yang kami rasakan ketika tertimpa masalah seperti ini,” kata Tatang.

Selain itu Tatang ingin memberi masukan kepada Pemkab Garut, agar ke depan lebih waspada lagi dalam menangani warga yang ditetapkan status ODP. Dia berharap ketika ada warga yang sudah ditetapkan ODP, lebih baik diisolasi di satu tempat, jangan dibiarkan berinteraksi dengan keluarganya di rumah.

Kejadian yang menimpa saudaranya ini menjadi pelajaran. Sebab yang merasakan tertekan bukan hanya orang yang berstatus ODP, tapi juga pihak keluarga di rumah.

Maka dari itu dia berharap ada tempat isolasi khusus bagi masyarakat yang sudah ditetapkan ODP atauapun PDP. (Djie)