Mengenal Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi dari Singapore
-->

Advertisement Adsense

Mengenal Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi dari Singapore

60 MENIT
Minggu, 09 Januari 2022

60menit.co.id | Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi (singapore).

Khas Redaksi : Tidak ada yang tahu jika tidak ada yang menulisnya.

Oleh ; Zhovena


60MENIT.co.id | Habib (kata benda dari bahasa Arab: حبيب, translate. ḥabīb‎; secara harafiah berarti yang dicintai; kekasih) adalah gelar kehormatan yang ditujukan kepada para keturunan Nabi Muhammad ﷺ yang tinggal di daerah lembah Hadhramaut, Yaman; Asia Tenggara; dan Pesisir Swahili, Afrika Timur.


Biasanya keturunan Alawiyin inilah yang disebut sebagai 'habib'. Habib itu sebenarnya hanyalah sebutan belaka. Namun kaum muslim selalu menjunjung tinggi dalam menghormatinya efek sayang dan cinta kepada Rasulullah Saw.

Seperti Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi (singapore) lahir di atas kapal laut pada tahun 1788 (1202 Hijriah). Orang tuanya adalah orang Hadramaut, daerah Arabia Selatan yang sekarang dikenal dengan Yaman. Menurut Syaikh Hasan Al-Khatib, pengurus Maqam Habib Nuh, yang mendengar dari Habib Al Khair, bahwa istri Habib Muhammad (ibu Habib Nuh) melahirkan ketika badai besar dan menghantam kapal.

Pada waktu itu ayahanda Habib Nuh, Habib Muhammad, membuat Nazar kepada Allah SWT, bahwa jika bayi itu lahir dengan selamat, maka ia akan beri nama bayi itu "Nuh" untuk mengingat Nabi Nuh as yang membawa cahaya rahmat dalam kapalnya. Tak lama kemudian, Habib Nuh lahir dengan selamat ke dunia ini.

Menurut beberapa sumber yang didapat, ayah Habib Nuh pejabat istana di bawah Sultan Ahmad Tajuddin Halim Shah II. Ketika istrinya meninggal Habib Muhammad Al Habsyi menikah dengan Sayidah Fathimah, janda dari Sayyid Yassin Al Anggawi yang terbunuh di Limbong Kapal saat diserang Siam Kedah pada tahun 1821. Setelah menikah, keluarganya pindah ke Penang-Malaysia. Habib Nuh juga memiliki saudara dengan nama Sharifah Alwiyah keturunan yang saat ini masih berada di Penang.

Habib Nuh al-Habsyi wafat pada hari Jum'at, 14 Rabi`ul Awwal 1283 H bertepatan pada hari Jumat, 27 Juli 1866, setelah 78 tahun mengabdi untuk agama Islam. Sebelum meninggal, beliau telah mewasiatkan agar dikebumikan di atas sebuah bukit kecil di Jalan Palmer tersebut. Wasiat ini dipandang sedikit aneh karena tempat yang ditunjukkannya itu adalah terpencil dari kuburan orang Islam dan berada di tepian laut. Maka keluarga beliau memutuskan agar jenazahnya dimakamkan saja di tanah perkuburan biasa.

Setelah selesai urusan jenazah dan ketika hendak dibawa ke tanah pemakaman biasa, jenazah beliau tidak dapat diangkat oleh orang yang hendak membawanya. Diceritakan puluhan orang mencoba untuk mengangkat jenazah tersebut, semuanya gagal. Akhirnya mereka diperingatkan agar mematuhi wasiat Habib Nuh tentang tempat pengkebumiannya.

Maka ketika jenazahnya hendak dibawa ke tempat menurut wasiatnya tersebut, orang-orang yang membawanya merasa jenazahnya amat ringan dan mudahlah mereka mengusungnya. Makam beliau tetap terpelihara sehingga sekarang dan menjadi tempat ziarah bagi mereka yang mencintai para Aulia Allah. 


Wallahu' Alam Bissawab.

Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan sejarah Islam.