![]() |
| Gambar Foto Pdt. DR. Cristian Tanduk, MT.h didampingi Pdt. Fery Hedra, ST.h. (Oki) |
60MENIT.co.id, Toraja Utara | Viral dimedia sosial suasana tenang di Gereja Toraja Jemaat Pasele, Kelurahan Pasele, Kecamatan Rantepao, mendadak terusik setelah Patung Yesus Kristus “Gembala Yang Baik” diduga menjadi sasaran aksi perusakan oleh tiga orang tak dikenal (OTK), Kamis (16/7).
Meski patung tidak mengalami kerusakan, pot bunga di sekitar lokasi dilaporkan pecah. Peristiwa itu memicu keprihatinan dan kecaman dari jemaat serta masyarakat yang menilai aksi tersebut telah menyasar simbol keagamaan.
Menyikapi persoalan tersebut, Sekertaris Badan Pekerja Sinode (BPS), Pdt. DR. Cristian Tanduk, M.Th, menyatakan permasalahan terkait dugaan perusakan pot bunga dihalaman Gereja Toraja Jemaat Pasele kelurahan Pasele Kecamatan Rantepao, telah diselesaikan secara damai.
"Masyarakat dan pihak gereja sepakat menyelesaikan masalah tersebut melalui dialog secara damai sesuai regulasi yang ada," kata Cristian, saat wawancara bersama para awak media, Sabtu (18/07/206).
Cristian mengaku turun langsung dalam menangani permasalahan tersebut. Ia melakukan dialog dengan masyarakat dan pihak Gereja Toraja Jemaat Pasele hari ini. Melalui upaya itu, kata dia, kegaduhan terkait masalah yang terjadi telah terselesaikan.
"Dari dialog tersebut berhasil pada kesamaan pemahaman sehingga masalah telah selesai," katanya.
Menurutnya, Polres Toraja Utara telah menegaskan kesiapan anggotanya untuk menjaga ketentraman umat beragama.
Forkopimda, kata dia, juga terus berupaya menciptakan kondisi Kamtibmas yang aman dan nyaman serta suasana keagamaan yang harmonis dan rukun.
Cristian mengatakan kegaduhan itu diduga kurangnya saling memahami oleh kedua belah pihak.
"Ya, mungkin soal pemahaman saja yang terjadi," kata Cristian menambahkan.
Sementara Pendeta Fery Hendra meminta agar masyarakat tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi oleh konten-konten terkait permasalahan tersebut di media sosial. Masyarakat diharapkan bisa menyaring informasi yang benar dan tidak benar atau hoaks.
Sebelumnya, sebuah video yang memperlihatkan warga di Kelurahan Pasele, umat Kristen berkumpul dan terlihat pot bunga berserakan.
tindakan yang dilakukan orang tak dikenal itu dilakukan dengan cara-cara yang sangat tidak bermartabat, serta menimbulkan teror dan ketakutan," kata Fery.
Masih kata Pendeta Fery, ini dapat terakumulasinya gesekan di tingkat akar rumput yang kapan saja bisa disulut oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab menjadi konflik terbuka.
"Salah satu poin penting dari kesepakatan itu ialah penegasan bahwa peristiwa dugaan perusakan Patung Tuhan Yesus Gembala Yang Baik yang terjadi kamis 16 Juli 2026 bukan akibat konflik antar umat beragama maupun masalah intoleransi, tapi murni perihal kesalahpahaman," tegasnya.
Kesepakatan yang dicapai dalam audiensi atau mediasi ini, sebut Fery, menunjukkan semangat kedamaian dan toleransi dalam menyelesaikan permasalahan yang melibatkan berbagai pihak.
"Diharapkan bahwa langkah-langkah konstruktif ini akan terus berlanjut untuk memperkuat kerukunan dan menciptakan lingkungan yang harmonis serta kondusif di Toraja," kunci Pendeta Fery.
(sal)



