Gerakan Hejo Garut, Tuding Pembangunan Jalan Poros Tengah Cilawu-singajaya, Upaya Ekploitasi Tambang Di Tengah Hutan Lindung.

Advertisement Adsense

Gerakan Hejo Garut, Tuding Pembangunan Jalan Poros Tengah Cilawu-singajaya, Upaya Ekploitasi Tambang Di Tengah Hutan Lindung.

Wak Puji
Rabu, 26 Februari 2020


60menit.com, Garut - " Suatu negri akan hancur meskipun dia makmur ", mereka berkata" Bagaimanana suatu negri hancur sedangkan dia makmur ".   Ia menjawab : " Jika orang orang yang berkhianat menjadi petinggi dan harta dikuasai oleh orang orajg yang Fasik ".   ( Umar bin Khatab )

Dialog manis yang diajarkan sahabat Umar bin Khatab bagi kita, sangat  relepan dengan kondisi dan situasi saat ini, tak sedikit para petinggi negeri ini berlaku Fasik dan berkhianat akan janji dan ucapannya manakala mereka menerima atau mendapatkan amanah akan berlaku curang.

Prilaku pemimpin seperti ini, sesungguhnya sedang menggali lubang kehancurannya sendiri dan orang lain.  Amanah yang dipercayakan dipergunakannya  sebagai  alat konsolidasi kecurangan atar mereka dari perangkat kelas desa sampai pejabat provinsi dan seterusnys, menggagas skenario penghancuran peradaban sebuah kawasan dengan melakukan kong kalikong terhadap masyarakat dan mengajukan projek siluman disuatu kawasan yang disinyslir mempunyai SDA potensi menggiurkan.


Getir apabila para petinggi fasik berminat dan tergoda memiliki lahan tambang yang menggoda, segala cara dilakukan, meskipun mereka sadar area tersebut terlarang, dengan membongkar dan mengorbankan kawasan konservasi dan habitat hayati didalamnya juga sumber air bagi beberapa desa.
Ironisnya, Pemerintah Kabupaten Garut meloloskan proyek perusakan tersebut, melalui kajian-kajian dan pertimbangan yang  entah  seperti apa, hingga proyek brutal dapat berjalan.
Pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya alam dan tidak diimbangi oleh upaya konservasi yang mengatas namakan mensejahterakan hidup manusia nampaknya mulai menampakan dampak negatif terhadap keberlangsungan lingkungan hidup itu sendiri, tanpa kajian dan urgensi pembangunan tersebut semakin bingung manakala yang mengiinisiasi adalah Pemkab Garut itu sendiri.
Merangkai sebuah puzel atas serpihan-serpihan kejadian dan cerita maupun sejarah masa lalu kita coba menyusunnya,. Sebuah pertanyaan “apa sih urgensi pembangunan jalan poros tengah, Desa Sukamurni Kecamatan Cilawu ke Desa Mangunjaya Kecamatan Banjarwangi ?”.
Sebagian proyek pembangunan jalan poros tengah yang digagas dan dikerjakan pihak ke tiga ini kini sedang hangat diperbincangkan karena menyimpan banyak tanya dan kejanggalan, bagi masyarakat dan penggiat lingkungan.
Sebaiknya pihak ketiga segera menghentikan pekerjaan atas perintah PUPR pemberi kerja, jelas terpantau tanpa mengantongi beberapa prosedural dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, dikerjakan terburu-buru seperti menambahkan Alat berat, tanpa pengawasan tenaga para ahli,

Hemat kami, pembangunan ruas jalan tersebut akan berdampak besar terhadap ekosistem kawasan Gunung Cikuray. Karena, dari data komunitas lingkungan di Garut, Kawasan yang akan dibangun jalan saat ini menjadi habitat bagi satwa-satwa yang dilindungi.
Kawasan tersebut juga menjadi daerah tangkapan air bagi Sungai Cikaengan yang bermuara di Pantai Selatan Garut dan Sungai Ciwulan yang melintasi Kabupaten Tasikmalaya dan bermuara di Pantai Selatan Tasikmalaya. Sebagian Kawasan yang akan digunakan untuk pembangunan jalan, adalah hutan lindung yang saat ini dikelola oleh Perum Perhutani yang ditunjuk pemerintah untuk mengelola Kawasan tersebut,
Dengan adanya proyek pembangunan jalan yang melintasi Kawasan tersebut, kami memandang Perum Perhutani Garut dan Perum Perhutani Tasikmalaya, telah gagal melindungi pengelolaan Kawasan tersebut.
Pekerjaan jalan yang menghubungkan Desa Sukamurni Kecamatan Cilawu ke Desa Mangunjaya Kecamatan Banjarwangi sebagian proyek pembangunan jalan poros tengah, adalah sebuah kesalahan besar, sebab ini terindikasi dari pergerakan lapangan yang membabi buta dan brutal dan apa sesungguhnya urgensi yang akan dicapai dari jalan poros tersebut tidak signifikan, kecuapi kehancuran ekosistem dan sumber-sumber air masyarakat Tasik dan Garut.
Sejauh mana kajian atas pembangunan jalan tersebut dibanding dengan manfaat yang didapatkan masyarakat ?. Sementa pembangunan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bila tertumpu pada sumberdaya alam dan lingkungan hidup tentu akan merubah fungsi-fungsi lingkungan hidup itu sendiri.

Oleh karenanya, kajian dan pemahaman atas pola-pola dan cara pembangunanlah akan menentukan besaran dampak pada lingkungan hidup. Kenapa pekerjaan ini mernjadi Fasik bagi penyelenggara pekerjaan seperti dialog diatas, sebagai pembuka penulis ?.
Kesewenangan menurut penulis berdasarkan pengalaman dan mengamati pergerakan di kawasan yang akan dijadikan jalan sekarang ini, bahkan sebagai inisiator pembukaan Wisata Ekologi Curug Cisarua pada tahun 2016. Menjadi paham akan situasi dan kondisi di sana.
Pemda dengan sendirinya telah mengakomodir perusakan hutan dan lingkungan yang makin parah, dari pengamatan kawasan yang sekarang disebut Kongsi tahap pertama dan tahap kedua adalah hasil penyerobotan masyarakat yang mengatas namakan LVRI waktu itu sangat melukai perasaan warga sekitar hutan,
Apa sebab puluhan hektar hutan dibabat dan ditebang habis oleh masyarakat yang bukan warga asli sekitar ?. Tersiar kabar yang perlu di pastikan kembali kebenarannya, penguasa dan pengusaha berupaya menguasai kawasan kongsi tersebut secantik mungkin dan tanpa gembar gembor, oleh sebab daerah tersebut diindikasi merupakan cadangan sumber daya alam melimpah, ini perlu disampaikan agar masyarakat paham.
Mereka berkolaborasi menginisiasi pembukaam jalur poros tengah tersebut sebagai rencana brutal. Inilah awal kehancuran ekologi dan lingkungan, dan sumber hayati yang tak bisa kita bayangkan perusakan secara masif, dari para pemilik tambang setiap waktu.  Indikasi ini yang terpikirkan oleh masyarakat, pembukaan poros tengah hanya sebagai mendekatkan route ke tujuan.
Kegagalan pemerintahan Kabupaten Garut saat ini, dengan mengizinkan pembangunan poros tengah Cilawu – Banjarwangi pastinya meluluh lantakan harapan penggiat lingkungan yang dengan sukarela menjaga dan mengamati ekosistem dan sumber air juga peradaban yang tersisa, Wallaahu a’lam bissawab. (Djie)