CITA-CITA WISUDAWAN UNIGA YANG MENINGGAL INGIN JADI DOSEN

Advertisement Adsense

CITA-CITA WISUDAWAN UNIGA YANG MENINGGAL INGIN JADI DOSEN

Wak Puji
Minggu, 08 Maret 2020

Orangtua Fauzi Junia Rahman, ST (Alm) photo bersama Rektor Uniga dan Bupati Garut
60menit.com, Garut - Wisudawan Universitas Garut (UNIGA), Fauzi Junia Rahman (22), yang meninggal dunia sebelum diwisuda bercita-cita meneruskan pendidikannya. Jurusan teknik elektro diambil karena kegemarannya.

Awan Djuanda (64), ayah Fauzi mengatakan anaknya bisa menyelesaikan studi selama empat tahun. Fauzi sebelumnya menargetkan untuk kembali menempuh pendidikan ke jenjang pascasarjana.

"Tapi cita-citanya itu harus putus karena sudah dipanggil lebih dulu. Saya mewakili anak saya datang ke acara wisuda ini," ujar Awan di Kampus Uniga, Sabtu (7/3/2020).

Almarhum Fauzi menerima penghargaan kehormatan dari pihak kampus bersama 7 orang wisudawan terbaik lainnya. Saat menerima penghargaan, mewakili anaknya, Awan tampak berkaca-kaca. Dia terlihat berusaha menahan air keluar dari matanya.

Fauzi berkeinginan menjadi dosen di almamaternya. Menurut Awan, di mata rekan-rekannya, Fauzi merupakan anak yang cerdas.

"Diandalkan sama teman-temannya. Kalau temannya ada yang enggak paham, suka tanya ke anak saya," katanya.


Rekan seangkatan, senior, dan junior kerap berkumpul di rumah Fauzi di Kampung Samangen, RT 01/07, Desa Wanasari, Kecamatan Wanaraja. Banyak yang tak menyangka, jika Fauzi dipanggil lebih dulu sebelum bisa merasakan wisuda.

 "Saat nyusun (skripsi) itu masih sehat. Setelah sidang, mengeluh sakit. Awalnya mengira hanya sakit influenza," kata Awan

Awan menjelaskan Fauzi sempat beberapa kali bolak-balik dokter untuk diobati. Namun, kondisinya tak kunjung membaik. Dia akhirnya dirawat di RS Guntur Garut selama seminggu.

"Setelah itu dirujuk ke Bandung. Kemudian dicek lab darah di Bandung dan Jakarta. Diagnosanya kena leukimia," ucap Awan.

Sambil menahan tangisnya, Awan kembali bercerita tentang anak kebanggaannya. Awan mengatakan, Fauzi adalah anak yang pandai.

Fauzi diketahui mendapat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,62 dan dinyatakan lulus dengan yudisium Cumlaude. Prestasi itu didapatnya setelah empat tahun berkuliah di jurusan Teknik Elektro Uniga.

Meski mengaku sedih karena anak keempatnya itu meninggal sebelum melewati hari yang bersejarah, Awan mengaku tegar menerima kenyataan.

"Sudah diajak jadi dosen juga di Uniga. Makanya ingin lanjutkan kuliah lagi. Saya berterima kasih ke kampus, karena sudah menerima anak saya," ucapnya. 

Dr.Ir.Abdusy Syakur Amin,M.Eng Rektor UNIGA 

Rektor Uniga, Dr.Ir.Abdusy Syakur Amin,M.Eng, mengucapkan bela sungkawa dan duka yang mendalam karena wisudawan hari ini telah di panggil Yang Maha Kuasa.

Rektor juga dalam sambutannya mengatakan Uniga mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti ujian kompetensi dan wajib memiliki sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan oleh BNSP selanjutnya juga mewajibkan mahasiswa untuk memiliki nilai kemampuan bahasa Inggris yang memadai.

“Berharap bahwa kami sudah siap berkompetensi di tingkat nasional bahkan internasional,” ucapnya.

Dirinya mengucapkan Terima kasih kepada pihak yang telah membantu terselenggaranya acara.

Bupati Garut, Rudy Gunawan mengatakan IPM kabupaten Garut hanya 7,2 dan merasa kalau pendidikan di suatu daerah kecil Artinya kita dianggap sebagai orang bodoh dan terbelakang. rata-rata nasional sudah di tingkat 8 dan rata-rata di angka Jawa Barat kita masih di atas beberapa kabupaten.

“Kita harus bangga bahwa sarjana di Garut sangat sedikit sekali, yang bergelar sarjana di Kabupaten Garut tidak lebih daripada 3% dari seluruh warga Kabupaten Garut,” tandasnya.

Bupati menuturkan, yang tidak melanjutkan sekolah karena alasan ekonomi dan minat. 

“kebanyakan alasan ekonomi, jadi saudara bangga karena menjadi Bagian terkecil dari masyarakat Garut yang bergelar akademik ini dikeluarkan oleh universitas yang berpredikat baik,” pungkasnya. (Djie)