![]() |
| AKBP Yoseph Adi Rakhmat Sudrajat, Kapolres Toraja Utara (Anto) |
60MENIT.co.id, Jakarta | Acara Ritual Ma’nene’ dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 28–29 Agustus 2026, di Baruppu’, Toraja Utara. Momen adat tersebut diperkirakan bakal ramai karena sejumlah perantau asal Baruppu’ dikabarkan pulang kampung untuk mengikuti rangkaian kegiatan.
Namun, di tengah persiapan ritual adat itu, muncul informasi yang mengundang perhatian. Kegiatan Ma’nene’ disebut-sebut akan diwarnai rencana judi sabung ayam (SBY).
Informasi yang diterima redaksi menyebutkan, aktivitas sabung ayam itu diduga direncanakan berlangsung pada 28–29 Agustus di Dusun Kole, Lembang Baruppu Benteng Batu. Kabar tersebut disebut berasal dari seseorang berinisial HTL alias Pd, yang diduga mengetahui rencana pelaksanaan SBY di wilayah Toraja Utara.
Informasi itu kemudian disampaikan kepada awak media dan diteruskan kepada Kapolres Toraja Utara AKBP Yoseph Adi Rakhmat Sudrajat.
“Terima kasih infonya. Sy sampaikan ke jajaran utk ditindak lanjuti,” demikian respons Kapolres melalui pesan WhatsApp, Rabu (26/8) malam.
Sementara itu, Kapolsek Rindingallo IPTU Yosep Randanan sebelumnya menegaskan pihaknya akan mengambil tindakan apabila kegiatan sabung ayam tersebut benar-benar digelar. “Akan dibubarkan,” tegasnya, sembari menekankan pentingnya langkah antisipasi.
Kabar dugaan judi sabung ayam bukan hanya muncul di Baruppu’. Aktivitas serupa juga dilaporkan berpotensi berlangsung di To’nangka’ Bua, Kesu’, pada 28 Agustus. Hingga kini, pihak yang diduga menjadi penyelenggara kegiatan tersebut belum diketahui.
Munculnya informasi tersebut menjadi perhatian karena kegiatan Ma’nene’ merupakan bagian dari tradisi masyarakat Toraja yang memiliki nilai adat dan budaya. Karena itu, dugaan penyisipan aktivitas perjudian dalam momentum tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius aparat.
Masyarakat berharap kepolisian tidak hanya membubarkan apabila kegiatan benar-benar terjadi, tetapi juga melakukan langkah pencegahan dan penegakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
“Harus ada efek jera dengan menahan dan memproses pelaksananya,” ujar Davidson, pemerhati masalah sosial di Rantepao.
(anto)



